Antrean Solar Subsidi Mengular di Jambi, Stok Katanya Aman Tapi Rakyat Tetap Mengantre

Truk menginap di SPBU demi mendapatkan BBM Solar.

Jambi, GN- Antrean panjang kendaraan untuk mendapatkan solar subsidi kembali menjadi pemandangan yang sulit dihindari di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Jambi. Pantauan Rabu pagi (26/8/2026) di sejumlah SPBU di Kota Jambi menunjukkan, truk dan kendaraan bermesin diesel mengular hingga keluar dari area SPBU, bahkan di beberapa titik memakan badan jalan dan mengganggu arus lalu lintas.

Persoalan ini bukan sekadar tentang kendaraan yang mengantre. Ketika antrean berlangsung dari malam hingga pagi hari, sementara solar subsidi diklaim dalam kondisi aman, pertanyaan yang muncul justru semakin tajam: ke mana sebenarnya solar subsidi itu mengalir?

Di lapangan, kendaraan roda enam dan mobil diesel tampak memadati sejumlah SPBU. Antrean yang seharusnya berada di dalam area pengisian kerap meluber hingga ke jalan.

Akibatnya, akses keluar-masuk SPBU terganggu dan pengguna jalan lain ikut terdampak. Dalam kondisi tertentu, antrean panjang bahkan berubah menjadi titik kemacetan baru.

Para sopir rela menunggu berjam-jam demi mendapatkan solar subsidi. Sebagian datang sejak malam dan baru bisa melakukan pengisian pada pagi hari.

Kondisi tersebut memperlihatkan persoalan distribusi yang belum benar-benar selesai. Sebab, jika pasokan disebut aman, maka antrean panjang yang terus berulang seharusnya tidak menjadi fenomena rutin.

Stok Aman, Tapi Solar Cepat Habis

Pihak Pertamina sebelumnya menyatakan ketersediaan BBM dalam kondisi aman. Namun, fakta di lapangan menunjukkan solar subsidi tetap cepat habis dan antrean kendaraan belum sepenuhnya terurai.

Kontradiksi antara klaim stok aman dan kenyataan antrean panjang inilah yang perlu dijawab secara terbuka.

Masyarakat tidak cukup hanya disuguhi pernyataan bahwa stok tersedia. Yang lebih penting adalah memastikan apakah distribusi benar-benar berjalan sesuai peruntukan dan apakah solar subsidi benar-benar sampai kepada pihak yang berhak.

Dugaan praktik pelangsiran pun kembali mencuat. Pembelian berulang atau penyalahgunaan distribusi solar subsidi diduga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan bahan bakar tersebut cepat habis di sejumlah SPBU.

Jika dugaan tersebut benar, maka persoalannya bukan semata-mata soal keterbatasan stok. Ada celah dalam pengawasan yang harus segera ditutup.

Subsidi negara tidak boleh berubah menjadi ladang keuntungan bagi segelintir pihak, sementara sopir dan pelaku usaha yang benar-benar membutuhkan justru dipaksa mengantre berjam-jam.

Barcode Diperketat

Pemerintah Provinsi Jambi dan Pemerintah Kota Jambi telah memanggil pihak Pertamina untuk mencari solusi atas persoalan tersebut. Salah satu langkah yang ditempuh adalah memperketat verifikasi kendaraan melalui pengecekan kode batang atau barcode agar penyaluran solar subsidi lebih tepat sasaran.

Selain itu, pengaturan SPBU dan kemungkinan penetapan atau pengaturan titik pengisian bagi kendaraan roda enam terus dievaluasi.

SPBU Paal 7 Kota Jambi.

Namun, langkah tersebut tidak boleh berhenti sebatas rapat koordinasi dan pengetatan administratif. Barcode hanya alat. Jika pengawasannya lemah, sistem secanggih apa pun bisa disiasati.

Pemerintah dan aparat terkait harus berani membongkar seluruh rantai distribusi, mulai dari kendaraan yang melakukan pengisian, pola pembelian berulang, hingga dugaan penimbunan dan pelangsiran.

Pengawasan juga tidak cukup dilakukan ketika persoalan sudah menjadi sorotan publik. Pemeriksaan harus dilakukan secara konsisten dan menyeluruh.

Jangan Biarkan Sopir Menjadi Korban

Di tengah persoalan distribusi ini, para sopir menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Waktu berjam-jam habis di antrean. Biaya operasional meningkat. Jadwal pengiriman terganggu.

Pada akhirnya, persoalan solar subsidi bukan hanya urusan SPBU dan kendaraan yang mengantre. Jika distribusi logistik terganggu, dampaknya bisa merembet ke sektor lain, termasuk harga barang dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Pemerintah tidak bisa terus-menerus hanya menenangkan publik dengan pernyataan bahwa stok aman. Masyarakat membutuhkan bukti di lapangan, bukan sekadar jaminan di atas meja rapat.

Jika stok benar-benar aman tetapi antrean tetap mengular setiap hari, maka yang harus dibenahi bukan hanya jumlah pasokan, melainkan sistem distribusi dan pengawasannya.

Pertanyaan besarnya kini sederhana: mengapa solar subsidi yang disebut aman masih sulit didapatkan oleh mereka yang mengantre sejak malam?

Pemerintah, Pertamina, pengelola SPBU, dan aparat penegak hukum perlu menjawab pertanyaan itu dengan tindakan nyata. Sebab selama antrean masih mengular dan dugaan pelangsiran belum ditangani secara terbuka dan tegas, masyarakat akan terus bertanya apakah solar subsidi benar-benar sampai kepada mereka yang berhak. Jangan sampai subsidi untuk rakyat justru bocor di tengah jalan.(GN-AsenkLeeSaragih)

0 Komentar