Dana Hibah Rp1,4 Miliar Sudah Cair, Kontingen Pesparawi Kepri Terlantar di Bandara: Di Mana Letak Persoalannya?


TANJUNGPINANG,GN-Kegagalan sebagian kontingen Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional XIV asal Kepulauan Riau (Kepri) berangkat ke Manokwari, Papua Barat, memunculkan pertanyaan serius terkait pengelolaan dana hibah yang telah dikucurkan pemerintah daerah.

Di satu sisi, Pemerintah Provinsi Kepri memastikan dana bantuan sebesar Rp1,4 miliar telah dicairkan seluruhnya kepada organisasi pelaksana. Di sisi lain, sejumlah peserta justru tertahan di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, setelah tiket penerbangan lanjutan menuju Manokwari tidak dapat digunakan.

Peristiwa itu tidak hanya menyisakan kekecewaan bagi para peserta yang telah menjalani latihan berbulan-bulan, tetapi juga membuka ruang pertanyaan publik mengenai transparansi penggunaan dana yang bersumber dari anggaran pemerintah.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Kepri, Hendri Kurniadi, menegaskan bahwa pemerintah telah memenuhi kewajibannya dengan menyalurkan bantuan hibah kepada organisasi yang bertanggung jawab atas keberangkatan kontingen.

"Yang jelas, pemerintah sudah memberikan bantuan Rp1,4 miliar dan sudah diberikan seluruhnya ke rekening organisasinya," ujar Hendri, Minggu (28/6/2026).

Pernyataan tersebut menjadi titik awal dari pertanyaan yang kini berkembang di tengah masyarakat. Jika dana sudah tersedia dan telah diterima pihak pelaksana, mengapa sebagian peserta justru gagal berangkat?

Tiket Tidak Bisa Digunakan

Informasi yang beredar menyebutkan sejumlah peserta mengalami kendala saat proses check-in penerbangan lanjutan dari Jakarta menuju Manokwari. Sistem maskapai menunjukkan kode pemesanan yang tidak valid atau tiket yang belum terbayar.

Akibatnya, para peserta yang sudah berada di bandara tidak dapat melanjutkan perjalanan menuju lokasi perlombaan nasional.

Hendri mengakui pemerintah belum menerima laporan resmi terkait kronologi lengkap kejadian tersebut. Informasi awal justru diperoleh melalui media sosial yang ramai membagikan video dan keluhan para peserta.

"Informasinya masih simpang siur. Yang kami tahu mereka batal berangkat karena tiketnya tidak bisa digunakan. Artinya ada semacam masalah di situ," katanya.

Kondisi tersebut membuat pemerintah memilih berhati-hati dalam menyimpulkan penyebab utama kegagalan keberangkatan kontingen.

Pemerintah Menunggu Laporan Resmi

Sebagai dana yang berasal dari anggaran negara, penggunaan hibah wajib dipertanggungjawabkan secara administratif maupun keuangan.

Karena itu, Pemprov Kepri menegaskan tidak akan berspekulasi sebelum menerima laporan resmi dari organisasi pelaksana.

"Kami tidak bisa menduga-duga. Kami menunggu laporan resmi dari mereka," tegas Hendri.

Sikap pemerintah ini sekaligus menunjukkan bahwa persoalan yang terjadi tidak bisa diselesaikan hanya melalui penjelasan informal. Diperlukan laporan rinci mengenai penggunaan anggaran, termasuk pengadaan tiket, akomodasi, konsumsi, serta kebutuhan lain selama mengikuti Pesparawi Nasional.

Potensi Audit dan Pemeriksaan

Kasus ini berpotensi menjadi perhatian aparat pengawasan internal pemerintah apabila ditemukan ketidaksesuaian dalam penggunaan dana hibah.

Hendri mengingatkan bahwa seluruh penggunaan anggaran akan melalui mekanisme pemeriksaan sebagaimana ketentuan yang berlaku.

"Nanti akan ada pemeriksaan dari Inspektorat maupun BPK," ujarnya.

Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa pemerintah tidak akan berhenti pada klarifikasi semata. Audit diperlukan untuk memastikan apakah dana digunakan sesuai peruntukan atau terdapat masalah dalam tata kelola anggaran.

Apabila ditemukan penyimpangan, maka persoalan ini berpotensi berkembang menjadi kasus yang lebih serius karena menyangkut penggunaan uang negara.

Nyanyian yang Menggugah di Tengah Kekecewaan

Di tengah ketidakpastian dan kekecewaan akibat gagal berangkat, para peserta menunjukkan sikap yang menuai simpati publik.

Sejumlah anggota kontingen Paduan Suara Wanita asal Tanjungpinang memilih mengisi waktu penantian dengan menyanyikan lagu-lagu rohani di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta.

Video mereka yang bernyanyi dengan penuh penghayatan di tengah kegagalan keberangkatan cepat menyebar di media sosial dan mendapat respons positif dari masyarakat.

Alih-alih meluapkan kemarahan, para peserta justru menampilkan keteguhan dan semangat pelayanan yang menjadi esensi dari kegiatan Pesparawi.

"Mereka tetap tampil dengan kepala tegap di bandara Jakarta. Itu cukup membuat kami bangga. Tetapi secara psikologis tentu mereka kecewa, dan kami memahami itu," kata Hendri.

Bagi banyak pihak, pemandangan tersebut menjadi simbol keteguhan para peserta yang tetap menjaga martabat kontingen meski menghadapi situasi yang tidak mereka kehendaki.

Menanti Penjelasan Terbuka

Hingga kini, publik masih menunggu penjelasan resmi dari organisasi pelaksana terkait penyebab tiket tidak dapat digunakan dan bagaimana sebenarnya pengelolaan dana hibah Rp1,4 miliar tersebut.

Kegagalan keberangkatan kontingen bukan hanya menyangkut persoalan teknis perjalanan. Di balik peristiwa itu terdapat harapan puluhan peserta, dukungan masyarakat, serta penggunaan dana publik yang harus dipertanggungjawabkan secara transparan.

Pemprov Kepri menegaskan akan menelusuri persoalan ini hingga tuntas.

"Ke mana uangnya, untuk apa uangnya. Itu harus dijelaskan," tegas Hendri.

Pernyataan tersebut kini menjadi tuntutan yang juga disuarakan publik. Sebab dalam kasus ini, yang dipertaruhkan bukan hanya keberangkatan peserta ke sebuah ajang nasional, melainkan juga kepercayaan masyarakat terhadap tata kelola dana yang dipercayakan kepada penyelenggara.

Di tengah viralnya nyanyian para peserta di bandara, satu pertanyaan masih menggantung dan menunggu jawaban yang terang: mengapa dana hibah telah dicairkan sepenuhnya, tetapi sebagian kontingen justru gagal terbang menuju panggung nasional yang seharusnya mereka perjuangkan?(GN-Red) 




0 Komentar