Bentor OPBM Mulai Bergerak di RT 15 Kebun Handil, Ujian Nyata Program Kampung Bahagia Menata Persoalan Sampah Kota Jambi

Bentor OPBM di RT 15 Kelurahan Kebun Handil, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, Selasa (2/6/2026). (Foto: AsenkLeeSaragih)

Jambi, GN- Dua hari setelah diluncurkan Pemerintah Kota Jambi, program Operator Pengumpul dan Pengelola Sampah Berbasis Masyarakat (OPBM) mulai menunjukkan aktivitas nyata di lapangan. Sejak Selasa (2/6/2026), armada bentor OPBM telah beroperasi di RT 15 Kelurahan Kebun Handil, Kecamatan Jelutung, mengangkut sampah rumah tangga warga dan melayani sejumlah RT di sekitarnya.

Kehadiran OPBM menjadi bagian dari langkah strategis Pemerintah Kota Jambi dalam mengatasi persoalan klasik perkotaan, yakni pengelolaan sampah yang selama bertahun-tahun masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari rendahnya kesadaran masyarakat, keterbatasan armada pengangkutan, hingga maraknya tempat pembuangan sampah (TPS) liar di sejumlah titik.

Program ini merupakan tindak lanjut dari peluncuran 18 unit bentor OPBM yang dilakukan langsung oleh Wali Kota Jambi, Dr. dr. H. Maulana, bersama Wakil Wali Kota Diza Hazra Aljosha di RT 18 Kelurahan Lingkar Selatan, Kecamatan Paal Merah, Minggu (31/5/2026).

Namun lebih dari sekadar peluncuran armada pengangkut sampah, OPBM sesungguhnya menjadi bagian dari visi besar Program Kampung Bahagia yang saat ini digadang-gadang sebagai model pembangunan berbasis masyarakat di Kota Jambi.

Dalam berbagai kesempatan, Wali Kota Maulana menegaskan bahwa persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya dengan menambah armada atau membangun fasilitas baru. Menurutnya, akar persoalan terletak pada perilaku dan budaya masyarakat dalam mengelola sampah.

Karena itu, konsep OPBM dirancang tidak sekadar mengangkut sampah dari rumah warga menuju tempat pengolahan atau pembuangan akhir. Program ini juga bertujuan membangun kesadaran kolektif masyarakat agar lebih disiplin dalam membuang dan memilah sampah.

"Kota Jambi bersih adalah jihad kita bersama. Kebersihan harus menjadi budaya, bukan hanya program pemerintah," ujar Maulana saat peluncuran OPBM.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tengah berupaya menggeser paradigma pengelolaan sampah dari pendekatan administratif menjadi gerakan sosial yang melibatkan masyarakat secara langsung.

Pendekatan itu dinilai penting mengingat pertumbuhan penduduk dan pembangunan perkotaan terus meningkatkan volume sampah yang dihasilkan setiap hari.

Kampung Bahagia dan Ambisi Menjangkau 1.583 RT

Bentor OPBM di RT 15 Kelurahan Kebun Handil, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, Selasa (2/6/2026). (Foto: AsenkLeeSaragih)

Program Kampung Bahagia sendiri menjadi salah satu program unggulan Pemerintah Kota Jambi tahun 2026. Data pemerintah menunjukkan program tersebut menjangkau sebanyak 1.583 RT yang tersebar di seluruh wilayah Kota Jambi. Pelaksanaannya dibagi dalam dua tahap, yakni 796 RT pada tahap pertama hingga akhir Juni dan sisanya pada tahap kedua mulai Juli hingga penghujung tahun.

Berbeda dengan program pembangunan konvensional yang berfokus pada proyek fisik, Kampung Bahagia mengedepankan partisipasi masyarakat melalui musyawarah RT dan gotong royong warga.

Model pembangunan seperti ini memungkinkan masyarakat menentukan sendiri kebutuhan prioritas lingkungan mereka, mulai dari pembangunan jalan lingkungan, drainase, fasilitas sosial hingga pengelolaan sampah.

Dalam pelaksanaannya, pemerintah bertindak sebagai fasilitator sekaligus penyedia dukungan anggaran, sementara masyarakat menjadi pelaku utama pembangunan.

Pendekatan tersebut dinilai mampu memperkuat rasa memiliki terhadap hasil pembangunan sehingga fasilitas yang dibangun dapat lebih terawat dan berkelanjutan.

Menutup TPS Liar, Membangun Ruang Publik

Salah satu target utama pengoperasian OPBM adalah menghilangkan keberadaan TPS liar yang selama ini menjadi persoalan di sejumlah kawasan Kota Jambi.

Tumpukan sampah di pinggir jalan tidak hanya mengganggu estetika kota, tetapi juga berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan, bau tidak sedap, serta menjadi sumber penyakit.

Pemerintah Kota Jambi berencana menutup titik-titik pembuangan sampah liar dan mengubahnya menjadi ruang yang lebih produktif bagi masyarakat.

"Kita bersihkan TPS liar dan kita manfaatkan menjadi taman atau ruang publik yang lebih bermanfaat," kata Maulana.

Jika kebijakan ini berhasil diterapkan secara konsisten, Kota Jambi berpotensi mengalami perubahan wajah lingkungan yang cukup signifikan dalam beberapa tahun mendatang.

Namun tantangan terbesar tetap terletak pada pengawasan dan kedisiplinan masyarakat agar tidak kembali membuang sampah di lokasi yang telah ditertibkan.

Sampah Bernilai Ekonomi

Selain aspek kebersihan, pemerintah juga mulai mendorong masyarakat untuk melihat sampah sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi.

Melalui OPBM, warga nantinya didorong untuk memilah sampah dari rumah, terutama sampah plastik, botol, kaleng, dan material lain yang dapat didaur ulang.

Skema ini diharapkan mampu mengurangi volume sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sekaligus menciptakan sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat maupun kelompok pengelola sampah di tingkat lingkungan.

Konsep tersebut sejalan dengan tren pengelolaan sampah modern yang saat ini berkembang di berbagai daerah di Indonesia, yakni mengubah paradigma "sampah sebagai masalah" menjadi "sampah sebagai sumber ekonomi sirkular".

Respons Positif Warga

Di tingkat masyarakat, operasional awal OPBM mendapat sambutan positif. Ketua RT 15 Kelurahan Kebun Handil Mas Budi menyebut keberadaan bentor OPBM sebagai solusi yang selama ini dinantikan warga untuk mengatasi persoalan sampah lingkungan.

Bentor OPBM di RT 15 Kelurahan Kebun Handil, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, Selasa (2/6/2026). (Foto: AsenkLeeSaragih)

Menurutnya, kehadiran armada pengangkut sampah hingga ke tingkat RT akan memudahkan warga membuang sampah secara teratur sekaligus mengurangi kebiasaan membuang sampah sembarangan.

Ia juga mengajak seluruh masyarakat mendukung program tersebut karena keberhasilannya sangat bergantung pada partisipasi warga.

Meski telah menunjukkan langkah awal yang menjanjikan, keberhasilan OPBM dan Program Kampung Bahagia masih akan diuji dalam jangka panjang.

Pengalaman berbagai daerah menunjukkan bahwa persoalan sampah bukan semata-mata masalah teknis pengangkutan, melainkan juga berkaitan dengan konsistensi kebijakan, pembiayaan operasional, pengawasan, serta perubahan perilaku masyarakat.

Karena itu, peluncuran bentor OPBM seharusnya dipandang bukan sebagai akhir dari sebuah program, melainkan awal dari upaya panjang membangun budaya hidup bersih dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Jika sinergi antara pemerintah dan masyarakat mampu terjaga, Program Kampung Bahagia berpotensi menjadi salah satu model pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat yang tidak hanya mempercantik wajah Kota Jambi, tetapi juga memperkuat nilai gotong royong yang selama ini menjadi identitas sosial masyarakat Melayu Jambi.(GN-AsenkLeeSaragih)

0 Komentar